Di sebuah perumahan elit di pinggiran Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Kemang, Eksis sebuah Griya dua lantai bergaya minimalis Nan setiap saat Sunyi setelah pukul sepuluh sunyi. Griya itu milik seorang wanita bernama Larasati, 32 tahun, janda Belia Nan ditinggal suami dikarenakan kecelakaan motor tiga tahun Lampau. Larasati besar ramping, kulitnya putih susu berdua terbatas Rona keemasan dikarenakan sering berjemur di rooftop apartemen lamanya. Rambut hitam lurus sepanjang punggung, setiap saat tergerai atau diikat ponytail besar Nan Membikin leher jenjangnya terlihat makin menggoda. Payudaranya Akbar tapi kencang, bentuknya bulat sempurna ukuran 36D, pentil cokelat Belia Nan setiap saat mengeras begitu udara sunyi menyentuhnya. Pinggulnya lebar, pantatnya bulat montok berdua garis celah Nan bagian dalam, Membikin setiap Lancingan ketat Nan dipakainya terlihat seperti Mau robek. Bibirnya padat alami, setiap saat merah lembab dikarenakan sering digigit seorang diri ketika Bimbang.
sunyi itu rintik deras. Larasati mutakhir balik dari kantor—Beliau bekerja sebagai marketing manager di sebuah perusahaan properti. Baju kerja ketatnya lembab kuyup, blus putih gampang menempel di kulit, kutang hitam renda tembus pandang samar-samar terlihat. Rok pensil hitamnya menempel di paha, menonjolkan lekuk pinggul dan bokong Nan montok. Begitu memasuki Griya, Beliau langsung melepaskan sepatu hak besar, Melangkah bugil kaki ke Bilik istirahat lantai dua.
Beliau Tak menyalakan lampu Primer. Hanya lampu istirahat kuning temaram di samping ranjang king-size Nan menyala. Larasati bangkit di Ambang cermin Akbar, menatap bayangannya seorang diri. Napasnya mulai berat banget. telah Nyaris setahun Beliau Tak disentuh cowok. sunyi-sunyi kesepian ini makin sering Membikin tangannya merayap ke bawah sempak. Tapi sunyi ini berbeda. Eksis sesuatu Nan mengganggu pikirannya sejak sore.
Pagi tadi, ketika Beliau sedang meeting di kantor, tetangga sebelah—Rendra, cowok 38 tahun, duda tak memakai anak, mantan tentara Nan sekarang mempunyai bisnis Bangunan Mini-kecilan—mampir ke rumahnya hasilkan mengembalikan key opsi pagar belakang Nan dipinjam Pekan Lampau. Rendra besar Akbar, bahu lebar, lengan berotot padat penuh urat, kulit sawo matang redup dikarenakan sering terpapar Mentari proyek. Rambut Pendek pendek, rahang konfirmasi, mata tajam Nan setiap saat menatap terlalu pelan. ketika menyerahkan key, jari-jarinya sengaja meraba telapak tangan Larasati extra pelan dari Nan Semestinya. Larasati merasakan getaran listrik Mini di perutnya. Rendra tersipu gampang, suaranya bagian dalam dan serak.
“sunyi ini rintik deras, Mbak Laras. Kalau khawatir sendirian, telepon saja. Dubur setiap saat dibuka Lakukan gua.”
Larasati hanya tersipu kaku, tapi setelah Rendra kesana, Beliau merasakan Lancingan dalamnya mulai lembab.
Sekarang, di Bilik istirahat, Larasati melepaskan blus basahnya. kutang hitam renda dilepas, payudaranya Nan Akbar terbebas, pentil telah mengeras dikarenakan udara sejuk AC. Beliau menatap cermin, tangan kanannya meremas toket kirinya pelan, jempol menggosok pentil Tiba Beliau mendesah Mini. Tangan kirinya merayap ke bawah rok, menyusup ke bagian dalam sempak hitam gampang. Jari tengahnya langsung menemukan klitoris Nan telah bengkak, licin oleh cairan Nan mengalir deras.
“Ya Tuhan… kenapa sunyi ini begini sekali…” gumamnya seorang diri.
mendadak bel Griya berbunyi. Larasati tersentak. Jam telah menunjukkan pukul 23:17. Siapa Nan tiba jam segini?
Beliau buru-buru mengenakan kimono satin hitam pendek Nan Nyaris Tak menutupi apa-apa, anjlok ke bawah berdua jantung berdegup kencang. Melalui kamera laksana masuk Ambang, Beliau menyaksikan Rendra bangkit di teras, baju kaus hitam lembab kuyup menempel di dada bidang dan perut six-pack-nya. Lancingan jeans gelapnya juga lembab. Wajahnya serius, tapi matanya… matanya lapar.
Larasati mengakses laksana masuk terbatas saja.
“Mas Rendra? Eksis apa sunyi-sunyi begini?”
“rintik deras, listrik di Griya gua Wafat. Generator rusak. Boleh numpang Sejenak? gua bawa kopi emosi kehangatan Baju roti dari minimarket.”
Larasati bimbang. Tapi tubuhnya telah berkhianat—putingnya mengeras lagi di balik satin gampang, memeknya berdenyut menyaksikan tubuh lembab cowok itu.
“A… ya telah, memasuki saja. Tapi Sejenak ya.”
Rendra memasuki, aroma keringat cowok bercampur rintik dan parfum kayu langsung memenuhi ruangan. Larasati mengakhiri laksana masuk, mengamankan. Mereka bangkit di ruang tamu redup, hanya diterangi lampu taman dari eksternal.
Rendra meletakkan tas kresek di meja, Lampau menatap Larasati dari atas ke bawah. Kimono satin itu terlalu pendek, celah depannya dibuka terbatas memperlihatkan belahan toket dan garis perut rata.
“Mbak Laras… Anda Ayu sekali sunyi ini,” suaranya pendek, Nyaris seperti growl.
Larasati menunduk, pipinya emosi kehangatan. “Mas… jangan ngomong gitu.”
Rendra melangkah mendekat. Jarak mereka tinggal Separuh meter. Larasati mendapatkan merasakan emosi kehangatan tubuh cowok itu.
“Kenapa? khawatir?”
Larasati menggeleng pelan, tapi matanya Tak mendapatkan rela dari dada bidang Nan melonjak anjlok itu.
Rendra mengangkat tangan, jari telunjuknya meraba dagu Larasati, mengangkat wajahnya.
“telah pelan ya, Mbak? Sendirian di Griya Akbar begini.”
Larasati menelan ludah. “Mas… gua—”
Belum berakhir berbisik, Rendra menariknya konfirmasi ke pelukannya. Bibirnya langsung menempel di bibir Larasati, ciuman ganas, lidahnya memaksa memasuki, menjelajah bibir wanita itu. Larasati mengerang tertahan, tangannya mendorong dada Rendra tapi rapuh sekali. Rendra malah menggigit bibir bawah Larasati Tiba terbatas berdarah, Lampau menjilatnya.
“Jangan Dusta. Saya tahu Anda lembab dari tadi,” berbisik Rendra di telinga Larasati.
Tangan kanannya merayap ke bawah kimono, langsung meremas bokong montok itu keras. Jari-jarinya menyusup ke celah pantat, menemukan sempak Nan telah lembab kuyup.
“Ya ampun… banjir begini. Anda memang jalang Nan Dahaga kontol ya?”
Larasati menggeleng, tapi desahannya malah makin keras ketika jari Rendra menyusup ke bagian dalam sempak, langsung menemukan lubang lobangpipis Nan licin dan emosi kehangatan.
“Aaahh… Mas… jangan…”
“Jangan apa? Jangan masukin jari? Atau jangan bilang kalau memekmu ini telah nganga minta dientot?”
Rendra menginput dua jari sekaligus, langsung mengocok Sigap. Bunyi cairan cipratan Mini terdengar di ruangan sunyi. Larasati memeluk leher Rendra erat, kakinya gemetar.
“Bilang, Mbak. Bilang Anda mau kontolku.”
Larasati terisak Mini, Kombinasi malu dan Lezat. “A… Saya mau… Mas… Saya mau kontolmu…”
Rendra tersipu puas. Beliau tertarik jari meninggalkan, menjilat cairan Larasati di Ambang matanya seorang diri. Selera Masin menarik Membikin matanya makin redup.
“anjlok. Menyerah.”
Larasati gemetar, tapi Taat. Beliau Menyerah di karpet ruang tamu. Rendra mengakses resleting Lancingan jeans, menekan sempak hitamnya. Kontolnya langsung melompat meninggalkan—lebar Sekeliling 18 cm, padat, urat-urat menonjol, kepala Akbar merah keunguan, telah lembab di ujung dikarenakan precum.
Larasati menatapnya berdua mata melebar. telah pelan sekali Beliau Tak menyaksikan kontol sungguhan.
“Mulutmu. izinkan.”
Larasati mengakses bibir, lidahnya meninggalkan terbatas. Rendra menggenggam rambutnya, tertarik kepala Larasati maju. Kontol Akbar itu langsung memasuki ke bibir emosi kehangatan wanita itu. Larasati tersedak, air mata meninggalkan, tapi Rendra Tak berhenti. Beliau mendorong pinggulnya maju-mundur, deepthroat konfirmasi. Bunyi gluk-gluk lembab terdengar, air liur Larasati menetes ke dagu dan payudaranya Nan dibuka.
“baik… isap extra bagian dalam, jalang. Tenggorokanmu ini dibuat Lakukan kontolku.”
Larasati mengerang di Sekeliling kontol, tangannya meremas paha Rendra. Rendra tertarik meninggalkan, kontolnya lembab kuyup air liur, Lampau menampar pipi Larasati pelan berdua batang itu.
“bangkit. Ke Bilik.”
Larasati bangkit berdua kaki gemetar. Rendra mengangkatnya seperti boneka, membawanya melonjak tangga ke Bilik istirahat. Begitu Tiba ranjang, Beliau melempar Larasati ke atas kasur. Kimono langsung disobek, sempak ditarik konfirmasi Tiba robek.
Rendra menindih Larasati, mulutnya langsung menggigit pentil kiri, menghisap keras Sembari tangannya meremas toket kanan. Larasati menjerit Mini, punggungnya melengkung.
“Mas… sakit… tapi Lezat…”
Rendra anjlok ke bawah, mengakses paha Larasati lebar-lebar. Memeknya telah merah bengkak, klitoris menonjol, cairan bening mengalir ke anus. Rendra menjilat dari bawah ke atas, lidahnya menari di klitoris, Lampau menusuk memasuki ke lubang itil.
“Aaahhh! Mas… lidahmu… bagian dalam sekali…”
Rendra mengisap klitoris keras, dua jarinya memasuki lagi, mengocok G-spot. Larasati menjerit, pinggulnya melonjak anjlok seorang diri. bagian dalam hitungan menit, Beliau orgasme pertama—cairan bening menyembur Mini, membasahi Paras Rendra.
“telah squirt sekali. Tetap mula, Mbak.”
Rendra bangkit, memposisikan kontol di Ambang lubang Larasati. Beliau menggesek-gesek masa lalu, kepala kontol mengakses bibir lobangpipis Nan licin.
“Masukin pelan ya Mas…”
“Pelan? Nggak Eksis pelan sunyi ini.”
Rendra mendorong keras sekali. Kontol padat itu memasuki Separuh, Larasati menjerit kesakitan Lezat. Rendra tertarik meninggalkan terbatas, Lampau tusuk lagi extra bagian dalam. Tiba pada akhirnya seluruh batang memasuki, bola-bolanya menempel di pantat Larasati.
“Penuh… kontolmu penuhin Saya… Mas…”
Rendra mulai menggerakkan pinggul, meninggalkan memasuki Sigap. Bunyi plok-plok lembab memenuhi Bilik, ranjang berderit keras. Larasati memeluk leher Rendra, kuku menancap di punggung cowok itu.
“Ngentot Saya extra keras… hancurkan memekku Mas… Saya budak kontolmu…”
Rendra membalikkan tubuh Larasati, letak doggy. Beliau menampar bokong montok itu keras Tiba memerah. Lampau memasuki lagi dari belakang, extra bagian dalam. Tangannya meraih rambut Larasati, tertarik kepala ke belakang.
“Bilang lagi. Bilang Anda milik kontolku.”
“Saya milik kontolmu Mas… Saya jalangmu… entot berikut… jangan berhenti…”
Rendra mempercepatkan, tangan kirinya meremas toket, jari kanannya memainkan klitoris. Larasati orgasme kedua, kali ini extra hebat—squirt menyembur deras ke kasur, tubuhnya kejang-kejang.
Rendra Tak berhenti. Beliau tertarik meninggalkan, membalik Larasati lagi, mengangkat kaki wanita itu ke bahu. Penetrasi bagian dalam sekali, kepala kontol meraba serviks.
“Di dalem ya Mbak… Saya mau meninggalkan di dalem memekmu.”
Larasati mengangguk Sigap, matanya berkaca-kaca Lezat. “Keluarin di dalem Mas… isi Saya penuh air mani…”
Rendra mengerang keras, pinggulnya berhenti di bagian dalam, kontol berdenyut keras. air mani emosi kehangatan menyembur pas berlimpah, memenuhi itil Larasati Tiba luber meninggalkan, menetes ke anus dan kasur.
Mereka berdua terdiam, tarikan napas tersengal. Rendra Tetap di bagian dalam, kontolnya pelan-pelan lembek tapi tetap melengkapi. Larasati memeluknya erat, air mata mengalir—bukan pilu, tapi kelegaan dan ketagihan.
“Mas… besok sunyi… tiba lagi ya?”
Rendra tersipu redup, mencium kening Larasati.
“Besok sunyi Saya bawa temenku. Anda sedia dilayani dua kontol sekaligus?”
Larasati menelan ludah, memeknya berdenyut lagi hanya membayangkannya.
“sedia… Saya mau semuanya…”
(Tamat hasilkan sunyi ini. Tapi romansa mereka mutakhir saja dimulai.)
sunyi berikutnya, rintik telah reda, tapi udara Jakarta Tetap lembab dan emosi kehangatan. Larasati bangkit di Ambang cermin Bilik bersih-bersih, tubuh telanjangnya Tetap penuh bekas sunyi lebih masa lalu: memar Mini keunguan di pinggul kanan dari remasan keras Rendra, bekas gigitan merah di leher dan toket kiri, serta garis-garis merah samar di bokong dari tamparan. Memeknya Tetap terbatas bengkak, bibir vaginanya agak menghitam dikarenakan digesek konfirmasi kontol padat itu semalaman. Tapi anehnya, setiap menyaksikan bekas itu, Larasati mengalami getaran emosi kehangatan kembali melonjak di perut bawahnya. Cairan bening telah mulai menetes pelan dari celah memeknya hanya dikarenakan teringat ucapan-ucapan Rendra tadi sunyi.
“Besok sunyi Saya bawa temenku. Anda sedia dilayani dua kontol sekaligus?”
Larasati menelan ludah berkali-kali sepanjang masa. Di kantor, Beliau Tak mendapatkan Konsentrasi. Setiap nongkrong, gesekan sempak sutra gampang ke klitoris Nan sensitif membuatnya menggigit bibir bawah. Beliau balik extra mula, bersih-bersih dua kali, memakai parfum vanila Nan menarik, Lampau memutuskan lingerie hitam renda gampang Nan Nyaris transparan—kutang push-up Nan Membikin payudaranya terlihat extra Akbar dan besar, sempak G-string Nan hanya menutupi terbatas saja, garter belt hitam berdua stocking gampang. Di atasnya, Beliau guna kimono satin merah darah Nan pendek, Nyaris Tak menutupi bokong montoknya.
Jam 21:45, bel Griya berbunyi dua kali. Larasati jantungnya berdegup kencang Tiba terasa di tenggorokan. Beliau anjlok tangga pelan, tumit stiletto hitamnya berdenting pelan di lantai marmer. ketika mengakses laksana masuk, Rendra telah bangkit di sana, Tetap berdua kaus hitam ketat dan Lancingan jeans redup. Di belakangnya Eksis seorang cowok lain—extra Belia, mungkin 30-an penutup, sebutan Dito. Dito extra ramping daripada Rendra, tapi tubuhnya atletis, kulit sawo matang terawat, rambut agak lebar bergelombang, mata sipit tajam, dan tersipu miring Nan penuh godaan. Beliau mantan rekan bisnis Rendra, sekarang mempunyai gym Mini di Kemang juga.
“Mbak Laras… ini Dito. Temen Nan Saya bilang kemarin.”
Larasati menunduk malu, tapi matanya melirik ke selangkangan keduanya. telah Eksis tonjolan Jernih di Lancingan jeans mereka berdua.
“memasuki… Mas,” suaranya pelan, Nyaris bergetar.
Mereka memasuki, Rendra langsung mengamankan dubur dan Ambang. Dito menatap Larasati dari atas ke bawah, lidahnya menjilat bibir bawah pelan.
“Wah… extra Ayu dari foto Nan Mas Rendra tunjukin. Bokongnya bikin pengen langsung tampar dari belakang.”
Larasati tersipu, tapi memeknya langsung berdenyut menyimak ucapan-ucapan konfirmasi itu. Rendra mendekat dari belakang, tangannya langsung merangkul pinggang Larasati, tertarik tubuhnya Tiba bokong montok itu menempel di tonjolan kontol Rendra Nan telah keras.
“Anda telah lembab belum, jalang?” berbisik Rendra di telinga Larasati Sembari menggigit cuping telinganya.
Larasati mengangguk Mini. “telah… dari tadi cerah mikirin ini…”
Dito terbahak pelan, melepaskan kausnya. Dadanya bidang, perut six-pack terlihat Jernih, Eksis tato Mini tribal di bahu kiri. Beliau mendekat dari Ambang, tangannya langsung meremas toket Larasati dari eksternal kimono.
“Payudaranya gede banget. Niscaya Lezat digigit.”
Rendra tertarik kimono Larasati Tiba Anjlok ke lantai. Sekarang Larasati hanya guna lingerie hitam dan stocking. Dua cowok itu menatapnya seperti serigala lapar.
“Ke sofa masa lalu. Biar kita main pelan-pelan,” ucapan Rendra.
Mereka membawa Larasati ke sofa lebar di ruang tamu. Rendra nongkrong di inti, tertarik Larasati nongkrong di pangkuannya menghadap ke Ambang. Kaki Larasati dibuka lebar oleh Dengkul Rendra, memamerkan lobangpipis Nan telah lembab di balik G-string gampang. Dito Menyerah di Ambang, tangannya merayap ke paha Larasati, tertarik G-string ke samping.
“Memeknya merah banget… Tetap bengkak dari semalem ya?” Dito menjilat bibirnya.
Jari inti Dito meraba klitoris Larasati, menggosok pelan masa lalu, Lampau Sigap. Larasati mengerang, kepalanya Anjlok ke bahu Rendra. Rendra meremas kedua toket dari belakang, mencubit pentil keras Tiba Larasati menjerit Mini.
“desir extra kencang, jalang. Biar tetangga denger Anda lagi dientot dua cowok.”
Dito menunduk, lidahnya langsung menjilat lobangpipis Larasati dari bawah ke atas. Selera Masin menarik cairan membuatnya mengerang. Beliau menusuk lidah ke bagian dalam lubang itil, mengocok seperti kontol Mini, Sembari jempolnya memijat klitoris. Larasati menggeliat, pinggulnya maju-mundur seorang diri.
“Aaahh… Mas Dito… lidahmu… Lezat sekali…”
Rendra tertarik rambut Larasati ke belakang, menciumnya ganas, lidahnya menari di bibir wanita itu. Tangan kanannya anjlok, ikut menginput dua jari ke lobangpipis Larasati Seiring lidah Dito. Bunyi cipratan lembab terdengar Jernih, busuk aroma lobangpipis lembab memenuhi ruangan.
bagian dalam lima menit, Larasati telah orgasme pertama sunyi itu. Cairan bening menyembur ke Paras Dito, tubuhnya kejang, kakinya gemetar hebat.
“telah squirt sekali. Tetap pelan nih,” ucapan Dito Sembari menjilat bibirnya.
Rendra mengangkat Larasati, membawanya ke lantai karpet padat. Beliau berbaring telentang, tertarik Larasati melonjak ke atasnya. Kontol Rendra telah meninggalkan dari Lancingan, Akbar dan keras, urat-uratnya menonjol. Larasati diposisikan menghadap Rendra, memeknya Pas di atas kontol itu.
“Masukin seorang diri, jalang. Tunjukin seberapa Dahaga Anda Baju kontol.”
Larasati menggenggam kontol Rendra, memerintahkan ke lubang vaginanya Nan licin. Beliau anjlok pelan, merasakan kepala Akbar itu mengakses bibir memeknya lagi. “Aaaahhh… gede banget… penuh lagi…”
Tiba Asas, Larasati mengerang lebar. Rendra menggenggam pinggulnya, mulai menggerakkan dari bawah, melonjak anjlok Sigap. Plok-plok lembab terdengar ritmis.
Dito bangkit di Ambang Paras Larasati, mengakses celananya. Kontolnya meninggalkan—terbatas extra pendek dari Rendra, Sekeliling 17 cm, tapi extra padat di bagian inti, kepalanya Akbar seperti jamur. Beliau menggenggam rambut Larasati, tertarik kepalanya maju.
“izinkan bibir. Isap kontolku Sembari dientot Mas Rendra.”
Larasati mengakses bibir lebar. Kontol Dito memasuki bagian dalam, langsung deepthroat. Larasati tersedak, air mata meninggalkan, tapi Beliau berikut mengisap, lidahnya berputar di kepala kontol. Bunyi gluk-gluk lembab bercampur berdua plok-plok dari bawah.
Rendra menampar bokong Larasati keras. “Mobilitas pinggulmu extra Sigap. Ngewe seorang diri di atas kontolku, jalang.”
Larasati mengangguk, pinggulnya melonjak anjlok extra ganas. Payudaranya bergoyang liar, pentil mengeras. Dito tertarik kontolnya meninggalkan, menampar pipi Larasati berdua batang lembab air liur.
“mengubah letak. Saya mau dari belakang.”
Mereka mengubah letak. Larasati doggy style di karpet, Rendra di Ambang, kontolnya kembali memasuki ke bibir Larasati. Dito di belakang, menggesek kontol tebalnya di celah pantat Larasati masa lalu, Lampau mendorong ke lobangpipis Nan telah penuh cairan.
“Memeknya licin banget… Lezat dipake bareng.”
Dito memasuki pelan masa lalu, tapi begitu Separuh memasuki, Beliau tusuk keras Tiba Asas. Larasati menjerit di Sekeliling kontol Rendra, tubuhnya maju dikarenakan dorongan itu.
Dua kontol sekaligus—Esa di bibir, Esa di lobangpipis. Rendra dan Dito bergantian ritme, Membikin Larasati seperti boneka Nan dimainkan. Orgasme kedua tiba Sigap, memeknya berdenyut tangguh, squirt lagi menyembur ke paha Dito.
“Mas… Saya nggak tangguh… terlalu Lezat…”
Dito tertarik meninggalkan, kontolnya lembab kuyup. “Mau coba dua sekaligus di lobangpipis?”
Larasati menggeleng khawatir, tapi matanya penuh nafsu. “Saya… mau coba… tapi pelan ya…”
Rendra berbaring lagi, Larasati melonjak di atasnya, memeknya menelan kontol Rendra penuh. Dito di belakang, mengoleskan ludahnya ke kontol seorang diri, Lampau mendorong pelan ke lubang Nan Baju. Larasati menjerit kesakitan Lezat ketika kepala kontol Dito memasuki, memaksa memeknya melebar extra dari Normal.
“Aaaahhh! Sakit… tapi… Lezat… penuh sekali… dua kontol di memekku…”
Mereka Beralih pelan masa lalu, Lampau makin Sigap. Bunyi plok-plok lembab bercampur jeritan Larasati. Payudaranya diremas keras oleh Rendra, pentil digigit Dito dari samping.
Orgasme ketiga tiba seperti badai—Larasati squirt deras, tubuhnya kejang hebat, memeknya menjepit dua kontol itu tangguh sekali. Rendra mengerang duluan.
“Saya meninggalkan… di dalem!”
air mani emosi kehangatan Rendra menyembur pas berlimpah, memenuhi lobangpipis Larasati. Dito ikut, kontolnya berdenyut, menyemprotkan air mani kedua di bagian dalam lubang Nan Baju. Cairan putih kental luber meninggalkan, menetes ke paha Larasati, ke karpet.
Mereka bertiga ambruk. Larasati terbaring di antara dua cowok itu, tarikan napas tersengal, tubuh penuh keringat dan air mani. Memeknya merah bengkak, air mani Tetap menetes pelan dari celah vaginanya.
Rendra mencium kening Larasati. “Besok sunyi lagi?”
Dito tersipu, jarinya mengoles air mani di bibir Larasati. “Atau sunyi ini berikut ronde dua? Tetap Eksis temenku Nan lain nunggu berita.”
Larasati menatap mereka berdua, matanya berkaca-kaca tapi penuh nafsu.
“Saya… nggak mendapatkan berhenti sekarang. bujuk temenmu lagi… Saya mau extra pas berlimpah…”
sunyi itu mutakhir permulaan. Larasati tahu, tubuh dan jiwanya telah direnggut sepenuhnya—dan Beliau rela.
Tiga masa setelah sunyi Seiring Rendra dan Dito, Larasati telah Tak lagi Baju. Tubuhnya seperti terbakar dari bagian dalam. Setiap pagi bangkit, tangannya otomatis merayap ke antara paha, menggosok klitoris Nan Tetap sensitif Sembari teringat Selera dua kontol sekaligus melengkapi memeknya Tiba luber air mani. Di kantor, Beliau sering ke toilet hanya hasilkan meraba diri seorang diri, membayangkan Bunyi plok-plok lembab dan desahan konfirmasi cowok-cowok itu. Beliau tahu ini keliru, tapi ketagihan itu extra tangguh dari Selera malu atau khawatir.
sunyi Kamis, jam 22:30, ponsel Larasati bergetar. Pesan dari Rendra.
“sunyi ini rumahmu. Bawa dua temen lagi. sedia-sedia guna Nan paling ekonomis dan paling Bandel. Kita main extra liar. Jangan guna sempak.”
Larasati membaca pesan itu tiga kali. Jantungnya berdegup kencang, memeknya langsung lembab hanya dari membayangkan “extra liar”. Beliau bersih-bersih Sigap, memakai body lotion vanila Nan segar, Lampau memutuskan set lingerie paling vulgar Nan Beliau mempunyai: kutang hitam renda dibuka di bagian pentil, sempak crotchless hitam Nan membiarkan lobangpipis dan anus dibuka lebar, garter belt merah berdua stocking fishnet, dan high heels merah 12 cm. Di atasnya hanya jubah satin hitam gampang Nan Nyaris tembus pandang. Rambutnya dibiarkan tergerai, bibir dipulas merah darah.
Jam 23:15, Bunyi mobil berhenti di Ambang Griya. Larasati mengakses laksana masuk tak memakai menyalakan lampu teras. Rendra memasuki duluan, diikuti Dito, Lampau dua cowok mutakhir Nan belum pernah Larasati lihat.
Nan pertama: Bayu, 35 tahun, mantan polisi Lampau lintas Nan sekarang kerja security di mall mewah. Tubuhnya paling Akbar di antara mereka—besar 190 cm, berotot padat seperti binaragawan, lengan sebesar paha Larasati, perut six-pack tapi agak berlemak di bagian bawah. Kulitnya redup legam, Eksis bekas luka sayatan di dada kiri. Kontolnya kelak terbukti paling lebar—Sekeliling 20 cm, lurus dan padat seperti botol air mineral.
Nan kedua: Arga, 29 tahun, tattoo artist Nan sering nongkrong bareng Rendra. Badannya ramping tapi berotot garing, penuh tato tribal dan tulisan Jepang dari leher Tiba pergelangan kaki. Rambutnya dicat platinum, piercing di lidah dan pentil. Matanya liar, senyumnya penuh gigi tajam.
“Mbak Laras… sunyi ini Anda bakal diobrak-abrik Tiba pagi,” ucapan Rendra Sembari mengakhiri laksana masuk dan mengamankan Seluruh.
Larasati bangkit di inti ruang tamu, jubah satinnya telah dilepas oleh Dito dari belakang. Tubuhnya sekarang terpampang Jernih di bawah lampu temaram: toket Akbar dibuka, pentil mengeras dikarenakan udara sejuk dan bahas mata empat cowok, lobangpipis dibuka lebar di balik crotchless, cairan bening telah menetes pelan ke paha bagian dalam.
Bayu mendekat pertama, tangannya Akbar meremas bokong Larasati keras Tiba dagingnya memutih di antara jari. “Bokongnya empuk banget. Niscaya Lezat ditampar.”
Arga langsung ke Ambang, lidahnya Nan berpiercing menjilat pentil kiri Larasati, memutar-mutar piercing di lidahnya di Sekeliling pentil Tiba Larasati mengerang keras.
“Desahannya manja banget. Saya tertarik Nan begini,” gumam Arga.
Rendra dan Dito telah melepaskan baju. Empat kontol keras bangkit tegak, sedia. Mereka membawa Larasati ke ruang santap—meja kayu jati lebar Nan Normal dipakai santap sunyi sekarang akan jadi panggung.
Bayu mengangkat Larasati seperti boneka, meletakkannya telentang di inti meja. Kaki dibuka lebar, diikat ke kaki meja memakai tali sutra merah Nan diajak Rendra. Tangan Larasati diikat ke atas kepala berdua ikatan Nan Baju. letak dibuka keseluruhan, lobangpipis dan anus terpampang Jernih.
“sunyi ini kita main tak memakai ampun. Anda Hanya lubang Lakukan kami,” ucapan Rendra Sembari menampar lobangpipis Larasati pelan tapi pas keras Tiba cipratan Mini terdengar.
Larasati menggeleng, tapi matanya penuh nafsu. “Saya… sedia… hancurkan Saya…”
Arga melonjak ke meja, Menyerah di atas dada Larasati, kontolnya Nan bertato Mini di pangkal langsung dimasukkan ke bibir wanita itu. Piercing di lidah Arga berganti ke kontolnya—Eksis barbell Mini di kepala kontol. Larasati merasakan logam sejuk di lidahnya ketika mengisap bagian dalam-bagian dalam.
Bayu di bawah, kontol panjangnya menggesek lubang lobangpipis Larasati masa lalu, Lampau mendorong pelan. Kepala Akbar itu mengakses bibir itil lebar-lebar, Larasati menjerit di Sekeliling kontol Arga.
“Penuh… kontolnya lebar sekali… nyentuh rahim…”
Bayu mulai menggerakkan pinggul, meninggalkan memasuki bagian dalam ritme pelan tapi bagian dalam sekali. Setiap tusukan, kepala kontol meraba serviks, Membikin Larasati kejang Lezat.
Rendra dan Dito Tak tinggal damai. Rendra meraih lilin aromaterapi dari meja samping, menyalakan, Lampau meneteskan lilin emosi kehangatan ke toket Larasati. Tetesan lilin merah mendarat di pentil, mengeras seketika. Larasati menjerit kesakitan Lezat, tubuhnya melengkung.
“Panasss… Mas… lagi…”
Dito meraih vibrator Mini Nan diajak dari tasnya—alat improvisasi dari remot mobil Nan bergetar tangguh. Beliau tempelkan ke klitoris Larasati Sembari Bayu berikut mengentot bagian dalam.
Getaran tangguh bercampur tusukan bagian dalam Membikin Larasati orgasme pertama bagian dalam hitungan menit. Squirt menyembur deras, membasahi perut Bayu dan meja kayu.
“telah squirt. mengubah letak,” ucapan Rendra.
Mereka menanggalkan ikatan, membalik Larasati jadi doggy di atas meja. Bayu memasuki lagi dari belakang ke lobangpipis, kali ini extra konfirmasi. Arga di Ambang, kontolnya kembali ke bibir. Rendra dan Dito di samping, bergantian menampar bokong dan meremas toket.
mendadak Arga tertarik meninggalkan dari bibir, berpindah ke belakang. Beliau mengoleskan ludah ke anus Larasati Nan telah licin oleh cairan lobangpipis Nan meluber.
“Mau coba double di belakang?”
Larasati menggeleng khawatir, tapi suaranya memohon. “Pelan ya Mas… Saya belum pernah dua di anus…”
Arga mendorong pelan, kepala kontolnya memasuki ke lubang belakang Nan terbatas. Larasati menjerit, air mata meninggalkan, tapi Bayu berikut mengentot lobangpipis dari bawah, Membikin sensasi penuh ganda. Arga memasuki Separuh, Lampau tusuk extra bagian dalam. Dua kontol sekarang melengkapi dua lubang belakang—lobangpipis dan anus.
“Ya Tuhan… penuh sekali… Saya robek…”
Rendra melonjak ke meja, kontolnya memasuki ke bibir Larasati lagi. Sekarang tiga lubang terisi sekaligus: bibir, lobangpipis, anus. Dito hanya mendapatkan meremas toket dan mencubit pentil Sembari menanti giliran.
Gerakan mereka makin liar. Bunyi plok-plok lembab, jeritan tertahan Larasati, desahan cowok-cowok itu memenuhi ruangan. busuk keringat, air mani, aroma lobangpipis lembab, dan lilin meleleh bercampur jadi Esa.
Larasati orgasme kedua dan ketiga berturut-turut—squirt menyembur ke paha Bayu, tubuhnya kejang hebat, anus dan lobangpipis menjepit kontol tangguh sekali.
Bayu meninggalkan duluan, tertarik kontol dari lobangpipis, menyemprotkan air mani emosi kehangatan ke punggung Larasati. Arga ikut, meninggalkan di bagian dalam anus, air mani kental meluber meninggalkan dari lubang belakang.
Rendra tertarik Larasati dari meja, membawanya ke lantai. Beliau berbaring, Larasati melonjak di atas, memeknya menelan kontol Rendra lagi. Dito memasuki dari belakang ke anus Nan telah licin air mani.
Double penetration lagi, kali ini extra ganas. Larasati melonjak anjlok seorang diri, payudaranya bergoyang liar, tangannya meremas dada Rendra.
“Saya jalang kalian… entot berikut… isi Saya penuh air mani…”
Dito dan Rendra meninggalkan Nyaris bersamaan—air mani emosi kehangatan menyembur di bagian dalam lobangpipis dan anus, luber meninggalkan, menetes ke lantai.
Mereka berlima ambruk di lantai. Larasati terbaring di inti, tubuh penuh air mani, lilin mengeras di toket, lobangpipis dan anus merah bengkak, cairan putih menetes dari kedua lubang.
Rendra membelai rambut Larasati Nan lembab keringat. “Besok sunyi kita ke villa di Puncak. Bawa temen extra pas berlimpah. Anda sedia jadi mainan kami semalaman?”
Larasati tersipu rapuh, matanya berkaca-kaca tapi penuh api.
“Saya sedia… bujuk siapa saja… Saya mau extra pas berlimpah kontol… Saya mau dihancurkan Tiba nggak mendapatkan jalur…”
sunyi itu berakhir berdua Larasati tertidur di antara empat cowok, tubuhnya Tetap bergetar pelan dikarenakan after-orgasme. Tapi di bagian dalam hatinya, Beliau tahu: ini mutakhir mula dari gelap gulita Nan extra bagian dalam.
Puncak, Bogor, Jumat sunyi. Udara sejuk pegunungan menusuk tulang, tapi di bagian dalam Villa Mahkota Nan tersembunyi di lereng Gunung Salak, suhu tubuh Larasati telah mendidih sejak sore. Rendra mengantarnya berdua mobil mewah hitam, tangannya sesekali meremas paha Larasati dari balik rok pendek Nan sengaja dipakai tak memakai sempak. Di kursi belakang, Dito, Bayu, Arga, dan dua cowok mutakhir telah menanti berdua tersipu lapar.
Nan pertama bernama Viko, 34 tahun, pemilik klub sunyi di Jakarta. Tubuhnya kekar seperti petinju, kulit hitam legam, lengan penuh urat, dan kontolnya Nan kelak terbukti paling padat—seperti pergelangan tangan Larasati. Nan kedua, Saka, 28 tahun, Instruktur tinju profesional. Badannya ramping berotot, perut eight-pack, dan tangannya konfirmasi penuh kapalan Nan Larasati tahu akan meninggalkan memar baik di kulitnya.
Enam cowok. Esa wanita. sunyi ini villa seluas 800 meter persegi ini akan jadi Loka Larasati akurat-akurat dihancurkan.
Begitu memasuki laksana masuk Primer, Rendra langsung mengakhiri Seluruh gorden dan mengamankan gerbang. Lampu Primer dimatikan, hanya lampu merah temaram di ruang bawah tanah Nan menyala. Ruangan itu telah dipersiapkan: Loka istirahat besi Akbar berdua rantai dan tali kulit, palang salib kayu di inti, meja kayu berdua lilin hitam, cambuk kulit, penjepit pentil, ball gag, blindfold, dan vibrator raksasa Nan bergetar tangguh.
Larasati bangkit di inti, tubuhnya gemetar Kombinasi khawatir dan nafsu. Beliau hanya memakai mantel lebar hitam Nan langsung dicabut Bayu konfirmasi. Tubuh telanjangnya terpampang: toket Akbar menggantung berat banget, pentil cokelat Belia telah mengeras dikarenakan sejuk, lobangpipis licin mengkilap, anus Tetap terbatas merah bekas sunyi lebih masa lalu.
“sunyi ini Anda bukan Larasati lagi,” ucapan Rendra Sembari memasang kalung anjing kulit hitam di leher Larasati. “Anda Ialah budak kontol kami. Namamu Jalang.”
Larasati mengangguk, suaranya bergetar. “Iya, Tuan… Saya Jalang kalian.”
Viko dan Saka terbahak pelan. Mereka langsung mengikat Larasati ke palang salib kayu: tangan diangkat besar, kaki dibuka lebar dan diikat di bawah. Tubuhnya terentang sempurna, toket terdorong maju, lobangpipis dibuka lebar tak memakai perlindungan.
Rendra menyalakan lilin hitam. Tetesan lilin emosi kehangatan pertama mendarat Pas di pentil kiri Larasati. Beliau menjerit keras, tubuh melengkung. Tetesan kedua, ketiga, keempat—di pentil kanan, perut, paha bagian dalam. Selera emosi kehangatan membakar berubah jadi Lezat menyiksa.
“Bilang raih kasih, Jalang,” perintah Arga Sembari mencambuk pelan paha Larasati berdua cambuk kulit Mini.
“raih kasih, Tuan… lagi… bakar Jalangmu…”
Bayu memasang penjepit pentil berantai berat banget. pentil Larasati langsung terjepit tangguh, Selera sakit menusuk Tiba ke memeknya Nan berdenyut. Rantai dihubungkan ke klitoris berdua penjepit Mini ketiga. Setiap gerakan Mini tubuh Larasati tertarik rantai itu, Membikin klitoris dan putingnya ditarik bersamaan.
Dito memasang blindfold hitam di mata Larasati. Bumi jadi redup. Hanya Bunyi tarikan napas enam cowok dan derit rantai Nan terdengar.
“Mulai,” ucapan Rendra.
Bayu Nan pertama. Kontol panjangnya langsung memasuki ke lobangpipis Larasati Nan telah banjir. Tusukan bagian dalam sekali, Tiba bola kontolnya menampar anus. Larasati menjerit, tubuhnya tersentak, rantai penjepit tertarik pentil dan klitorisnya.
“Penuh… kontolnya nyentuh rahim… Tuan…”
Viko memasuki ke bibir. Kontol tebalnya memaksa rahang Larasati melebar maksimal. Deepthroat konfirmasi, air liur menetes deras ke toket. Saka di belakang, lidahnya menjilat anus Larasati masa lalu, Lampau kontolnya mendorong memasuki pelan ke lubang belakang Nan Tetap terbatas.
Dua kontol di bawah, Esa di bibir. Larasati telah orgasme pertama bagian dalam dua menit—squirt menyembur deras ke lantai semen, tubuhnya kejang hebat, rantai penjepit bergetar.
“Jalang ini squirt hanya dari tiga kontol,” ejek Dito Sembari menampar pipi Larasati pelan.
Mereka bergantian. Arga mengubah Bayu di lobangpipis, mengentot ganas Sembari tertarik rantai penjepit klitoris. Rendra meraih cambuk Akbar, mencambuk bokong Larasati bergantian—plak! plak! plak!—Tiba kulit putihnya memerah cerah berdua garis-garis merah.
“extra keras, Tuan… hancurkan pantat Jalangmu!” jerit Larasati di sela isapan kontol Viko.
Choking dimulai. Rendra menggenggam leher Larasati dari Ambang, jari-jarinya menekan pelan tapi tangguh ketika Saka mengentot anus dari belakang. Larasati mengalami pusing Lezat, napasnya tersengal, memeknya berdenyut extra tangguh.
letak berubah. Larasati dilepaskan dari palang, diajak ke Loka istirahat besi. Tangan dan kaki diikat ke empat tiang ranjang—letak spread eagle. Blindfold tetap dipakai.
Enam cowok mengelilinginya. Mereka bergantian memasuki ke lobangpipis dan anus secara bergiliran. Kadang dua kontol sekaligus di lobangpipis, kadang Esa di lobangpipis Esa di anus, kadang tiga lubang terisi bersamaan—bibir, lobangpipis, anus.
Viko Nan paling brutal. Beliau mengangkat pinggul Larasati besar, kontol tebalnya menghantam G-spot berulang kali Tiba Larasati squirt berturut-turut tiga kali. Cairan bening menyembur seperti air mancur, membasahi perut Viko dan seprai.
Saka memakai vibrator raksasa di klitoris Sembari Rendra mengentot bibir. Getaran tangguh itu Membikin Larasati menjerit tak memakai Bunyi dikarenakan bibir penuh kontol.
“Bilang Anda milik kontol kami Seluruh!” perintah Rendra Sembari mencabut kontolnya Sejenak.
“Saya milik kontol kalian Seluruh… Jalang kalian… isi Saya… hancurkan Saya… Saya nggak mau berhenti selamanya!”
Orgasme keenam tiba ketika Bayu dan Arga menginput kontol mereka bersamaan ke lobangpipis Larasati. Memeknya melebar eksternal Normal, Selera penuh sakit Lezat membuatnya kejang hebat. Squirt terbesar sunyi itu menyembur, membasahi dada Bayu.
Esa per Esa mereka meninggalkan. Rendra duluan di bagian dalam lobangpipis, air mani emosi kehangatan memenuhi Tiba luber. Viko di anus, Saka di bibir—Larasati menelan sebanyak mungkin tapi sebagian menetes ke dagu dan toket. Dito, Bayu, dan Arga menyemprotkan Residu air mani ke Paras, toket, dan perut Larasati. Bukkake Komplit. Paras Larasati ditutup lapisan putih kental, rambut lembab, tubuh lengket.
Rantai penjepit dilepas pelan. Selera darah mengalir kembali ke pentil dan klitoris Membikin Larasati orgasme Mini lagi meski tak memakai sentuhan.
Mereka menanggalkan ikatan. Larasati ambruk lemas di inti ranjang, tarikan napas tersengal, tubuh penuh air mani, memar, bekas cambuk, dan lilin mengeras. lobangpipis dan anusnya merah bengkak dibuka, air mani Tetap menetes pelan dari kedua lubang.
Rendra membelai rambut Larasati Nan lengket, mencium keningnya pelan.
“Besok pagi kita balik. Tapi Pekan Ambang… Eksis pesta Akbar di sini. Dua puluh cowok. Seluruh temen bisnis kami. Anda sedia jadi ratu budak di pesta itu?”
Larasati mengakses mata pelan, bibirnya Nan bengkak tersipu rapuh tapi penuh nafsu.
“Saya sedia, Tuan… bujuk dua puluh… atau extra… Saya mau diisi Tiba penuh… Saya telah nggak mendapatkan Hayati tak memakai ini…”
Beliau tertidur di antara enam cowok Nan Tetap mengelus tubuhnya pelan. Di eksternal villa, hembusan pegunungan berhembus sejuk, tapi di bagian dalam, api bagian dalam diri Larasati mutakhir saja menyala makin Akbar.
Sabtu sunyi dua Pekan kemudian, villa di Puncak itu telah berubah keseluruhan. Lampu merah neon dipasang di seluruh ruangan bawah tanah, musik deep bass techno bergema pelan tapi menggetarkan Tembok. Udara sejuk pegunungan bercampur busuk keringat cowok, parfum vip, air mani Masin, dan aroma lobangpipis lembab Nan telah memenuhi ruangan sejak sore.
Larasati tiba extra masa lalu, dikawal Rendra dan Bayu. Beliau telah Tak lagi guna busana Normal. sunyi ini Beliau Ialah inti pesta: tubuh bugil hanya ditutupi harness kulit hitam Nan menjepit toket besarnya dari bawah, membuatnya terdorong maju seperti persembahan. Putingnya dijepit cincin logam berat banget berdua rantai gampang Nan terkoneksi ke klitoris. Di leher Eksis kalung anjing Akbar bertuliskan “JALANG MILIK Seluruh”. Pantatnya dipasang butt plug berukuran sedang berdua ekor rubah putih lebar Nan bergoyang setiap jejak. Kakinya dibalut stoking fishnet hitam dan sepatu hak 15 cm merah darah.
Rendra membawanya ke inti ruangan bawah tanah Nan melebar. Di sana telah Eksis lingkaran Akbar dari karpet merah padat, dikelilingi 20 cowok Nan bangkit menanti. Seluruh telah bugil atau hanya guna sempak, kontol mereka telah Separuh keras atau penuh tegak. Eksis Nan berotot padat seperti binaragawan, Eksis Nan ramping bertato, Eksis Nan Uzur berumur 50-an berdua kontol padat berurat, Eksis Nan Belia berusia 25-an berdua kontol lebar melengkung. Seluruh mata tertuju pada Larasati.
“sunyi ini,” Bunyi Rendra bergema lewat mikrofon Mini, “Jalang kalian sedia dilayani. Tak Eksis batas. Tak Eksis ucapan berhenti kecuali Beliau bilang ‘merah’. Tapi Saya tahu Beliau nggak akan bilang itu.”
Larasati bangkit di inti lingkaran, tubuh gemetar. Memeknya telah banjir sejak di mobil tadi, cairan bening menetes pelan ke paha bagian dalam. Beliau menunduk malu, tapi matanya berkeliling—menghitung kontol Nan akan melengkapi tubuhnya sunyi ini.
Pesta dimulai tak memakai basa-basi.
Dua cowok pertama—Bayu dan Viko—mengangkat Larasati ke meja kayu bundar di inti. Kaki dibuka lebar dan diikat ke tiang besi di samping meja, tangan diikat ke atas kepala. Butt plug dicabut konfirmasi, diganti berdua dildo vibrator raksasa Nan langsung dinyalakan gaya besar. Getaran tangguh itu langsung Membikin pinggul Larasati bergoyang seorang diri.
Rendra memasang ball gag Akbar di mulutnya, air liur langsung menetes dari Pandang Perspektif bibir. Blindfold hitam dipasang lagi. Bumi redup, hanya Bunyi desahan cowok, musik bass, dan getaran di memeknya Nan terasa.
Nan pertama memasuki: seorang cowok bertubuh Akbar bernama Toni, kontolnya pendek tapi sangat padat seperti kaleng soda. Beliau langsung menusuk lobangpipis Larasati tak memakai persiapan extra berikut. Larasati menjerit tertahan di balik gag, tubuhnya tersentak keras. Toni mengentot ganas, setiap dorongan Membikin payudaranya bergoyang, rantai penjepit tertarik pentil dan klitoris bersamaan.
bagian dalam 30 denyut, Larasati orgasme pertama sunyi itu—squirt menyembur deras ke perut Toni, tubuh kejang hebat. Toni Tak berhenti, malah mempercepatkan Tiba meninggalkan di bagian dalam, air mani emosi kehangatan memenuhi lobangpipis Larasati.
Giliran berganti Sigap. Setiap cowok mempunyai Masa 2-3 menit hasilkan memakai keliru Esa lubang. Eksis Nan memutuskan lobangpipis, Eksis Nan anus, Eksis Nan bibir setelah gag dilepas Sejenak. extra dari Esa cowok langsung double penetration—dua kontol di lobangpipis sekaligus, atau Esa di lobangpipis Esa di anus. Nan paling ekstrem: tiga kontol sekaligus di lobangpipis—kontol padat, lebar, dan sedang dipaksa memasuki Seiring, Membikin bibir itil Larasati melebar maksimal, merah bengkak, dan robek Mini di pinggir.
Bunyi plok-plok lembab, jeritan tertahan, desahan cowok, dan cipratan squirt memenuhi ruangan. Larasati orgasme berulang—ke-5, ke-10, ke-15—setiap kali squirt makin deras, membasahi karpet merah jadi redup lembab.
Elemen BDSM diperkuat. Cambuk kulit lebar digunakan hasilkan memukul toket dan bokong Larasati ketika Beliau dientot. Setiap tamparan meninggalkan garis merah lebar. Lilin hitam diteteskan ke seluruh tubuh—pentil, perut, paha bagian dalam, bahkan ke klitoris Nan telah bengkak. Selera emosi kehangatan membakar berubah jadi Lezat menyiksa Nan Membikin memeknya berdenyut extra tangguh.
Choking berat banget dijalankan bergantian. Tangan Akbar cowok menekan leher Larasati Tiba wajahnya memerah, tarikan napas tersengal, tapi orgasme tiba extra hebat ketika oksigen berkurang. Electro-stim digunakan—alat Mini Nan menyetrum enteng ke pentil dan klitoris, Membikin tubuh Larasati kejang seperti disetrum listrik Lezat.
Puncaknya ketika 10 cowok terakhir bergabung bagian dalam “circle fuck”. Larasati dibaringkan telentang di karpet, kaki diangkat besar dan dibuka lebar. Esa per Esa cowok memasuki ke lobangpipis atau anus, meninggalkan di bagian dalam atau di eksternal, meninggalkan air mani di tubuhnya. Nan lain mengocok kontol di atas Paras dan toket, menyemprotkan bukkake massal. Paras Larasati ditutup lapisan air mani padat, mata ditutup putih, rambut lengket, bibir dibuka menelan sebanyak mungkin.
air mani menetes dari lobangpipis dan anus seperti air terjun Mini, membentuk genangan di karpet. Payudaranya penuh coretan putih, perut rata berlumur, paha bagian dalam licin.
Orgasme terakhir Larasati tiba ketika cowok ke-20 menyelesaikan—kontol lebar meraba serviks bagian dalam, menyemprotkan air mani terakhir di rahim. Tubuh Larasati kejang hebat, squirt terakhir menyembur setinggi 30 cm, Lampau ambruk lemas keseluruhan. Napasnya tersengal, tubuh bergetar tak terkendali.
Seluruh cowok mundur, meninggalkan Larasati terbaring di inti karpet lembab air mani dan cairannya seorang diri. Rendra melepaskan blindfold dan gag pelan.
Larasati mengakses mata pelan. Wajahnya penuh air mani, bibir bengkak, tapi matanya Tetap menyala.
“Tetap… mau lagi?” selidik Rendra Sembari membelai pipinya Nan lengket.
Larasati tersipu rapuh, suaranya serak habis menjerit.
“Saya… nggak pernah pas… Tapi sekarang… Saya butuh istirahat… besok… atau lusa… bujuk extra pas berlimpah lagi… Saya mau jadi milik Seluruh cowok di Jakarta… selamanya…”
Rendra mencium keningnya Nan lembab keringat dan air mani.
“Kita lihat seberapa berjarak Anda mendapatkan menegaskan, Jalang.”
Larasati tertidur di genangan air mani itu, dikelilingi 20 cowok Nan Tetap menatapnya berdua lapar. sunyi itu berakhir, tapi Larasati tahu—ini bukan penutup. Tubuh dan jiwanya telah direnggut sepenuhnya, dan Beliau rela menyerahkan semuanya lagi dan lagi.
TAMAT.

Leave a Reply