Saya, Rina, 32 tahun, janda sejak dua tahun Lampau. Suamiku meninggal dikarenakan kecelakaan motor di jalur tol, meninggalkanku berdua sebuah Griya Mini di pinggir Jakarta Selatan dan luka Nan tak pernah akurat-akurat sembuh. Tubuhku Tetap utuh, bahkan extra penuh dari masa lalu—toket cup D Nan beban dan kencang meski telah melahirkan sekali, pinggul lebar Nan Membikin rok span setiap saat ketat di bagian bokong, pantat bulat montok Nan setiap saat jadi sasaran kupas mata Pria di minimarket atau ketika salat tarawih di masjid komplek. Kulitku sawo matang cerah, mulus dikarenakan Giat memakai body lotion vanilla setiap gelap. Rambut lebar hitam legam Nan setiap saat kusembunyikan di kembali jilbab lebar model segi empat, bibir tebel alami berwarna merah Belia Uzur, dan mata sipit Nan katanya setiap saat terlihat menggoda meski Saya Berjuang menunduk sopan.
gelap itu rintik deras sekali. Listrik di komplek sempat padam sejam, jadi Saya menentukan tiduran di Bilik Sembari main Mobile Legends guna hotspot dari ponsel. Saya guna kaus oblong Lenggang tak memakai kutang—putingku Nan Akbar dan cokelat Uzur kadang menonjol samar di kembali kain tipis banget—ditambah Lancingan legging hitam ketat Nan membungkus paha tebel dan bokongku Tiba terlihat garis celah pantat kalau Saya membungkuk. Di atas kepala tetap jilbab instan Rona hitam polos, dikarenakan Saya mengalami Tak berbusana kalau melepasnya meski sendirian di Griya.
seketika Eksis ketukan pelan di laksana masuk Ambang.
Saya kaget. Jam telah lewat inti gelap. Siapa Nan tiba?
Saya memasuki laksana masuk kecil, hanya setinggi muka. Di teras tegak Mas Dika, tetangga sebelah. Pria 28 tahun, raga besar tegap, bekas main basket semasa SMA, kulit sawo matang suram, rahang pastikan, dan lengan berotot Nan setiap saat kelihatan dikarenakan Beliau tertarik guna kaus ketat. Beliau tetangga Nan paling sering menyapa, kadang bantu angkat galon, kadang ngasih ikan mujair kalau habis mancing di kolam desa. Tapi gelap ini matanya beda. lembab kuyup dikarenakan kehujanan, kausnya nempel di dada dan perutnya Nan rata, Lancingan pendek olahraga hitamnya juga lembab Tiba memperlihatkan tonjolan Akbar di selangkangan.
“Tante… listrik Wafat di sebelah. Charger HP habis. Boleh numpang ngecas bentar Sembari nunggu rintik reda?” suaranya serak, seperti orang menahan sesuatu.
Saya bimbang. Tapi rintik makin deras, hembusan memasuki ke ruang tamu. ujungnya Saya mengangguk pelan.
“memasuki aja, Mas. Tapi jangan pelan-pelan ya, Saya mau istirahat.”
Beliau memasuki, sepatu dilepas, kaus lembab langsung meneteskan air di lantai keramik. Saya serap handuk Mini dari Bilik guyur, memberikannya padanya. ketika tanganku meraba jarinya, Eksis getaran listrik Mini. Saya buru-buru tertarik tangan.
Beliau mengelap rambut dan leher, tapi matanya tak rela dari tubuhku. Saya sadar kausku telah agak lembab di bagian dada dikarenakan cipratan rintik dari laksana masuk, puttingku mengeras dan terlihat Jernih menonjol.
“Kak Rina… Ayu banget gelap ini,” katanya seketika, Bunyi pendek.
Saya tersentak. Baju Beliau panggil “Tante” atau “Bu Rina” berdua sopan.
“Mas ngomong apa sih,” Saya menunduk, pipi emosi emosi adem. “Charger di meja ruang tamu. Colok aja.”
Tapi Beliau tak Beralih ke meja. Malah melangkah mendekat. amis keringat segar Kombinasi rintik dari tubuhnya tercium kokoh. Maskulin, Membikin kepalaku kecil pusing.
“Sejak masa lalu Saya tertarik ngeliatin Kak Rina pas salat di masjid. Jilbabnya teratur, roknya lebar, tapi bokongnya… ya Tuhan, setiap saat goyang pelan tiap jejak. Saya sering bayangin gimana rasanya pegang dari belakang.”
Jantungku berdegup kencang. Saya mundur Tiba punggung meraba Tembok. “Mas Dika… jangan ngomong gitu. Saya janda, tapi Saya tetap Wanita beragama.”
Beliau tersipu miring. “Malah dikarenakan Kak Rina janda, Saya tahu Niscaya kesepian. Suami udah nggak Eksis, siapa Nan puasin Kak Rina sekarang? Tangan seorang diri?”
Wajahku memerah hebat. Saya Mau kesal, tapi mulutku garing. Di antara paha, Saya merasakan sesuatu Nan emosi emosi adem mulai merembes. Memekku mulai lembab hanya dikarenakan ungkapan-katanya.
Beliau melangkah lagi, sekarang jarak kami tinggal sejengkal. Tangannya melonjak, meraba ujung jilbabku, Lampau tertarik pelan kain itu Tiba terlepas. Rambutku tergerai lebar, Anjlok Tiba pinggang.
“Ayu sekali…” desisnya.
Saya gemetar. “Mas… jangan…”
Tapi tubuhku tak Beralih menolak. Malah mataku tidak ada ketika bibirnya mendekat. Ciuman pertama tiba ganas. Bibirnya emosi emosi adem, lidahnya langsung memaksa memasuki ke mulutku. Saya menguji menolak Sejenak, tapi lidahku malah balas menari. amis napasnya maskulin, kecil rokok dan permen mint.
Tangannya langsung meremas payudaraku dari eksternal kaus. Keras. Sakit, tapi Lezat. Putingku dijepit jari telunjuk dan jempol, dipilin pelan Tiba Saya mendesah di bagian dalam ciuman.
“Uhh… Mas… jangan…”
“Jangan apa? lobangpipis Kak Rina udah banjir kan?” tangan satunya berkurang, meraba selangkanganku dari eksternal legging. Jari tengahnya menekan Pas di celah lobangpipis, menggosok melonjak berkurang. Saya menggelinjang.
“lembab banget… jalang Mini,” bisiknya di telingaku.
Saya malu Separuh Wafat, tapi pinggulku malah maju seorang diri mencari gesekan itu.
Beliau menarikku ke Bilik. Saya tak melawan lagi. Begitu laksana masuk Bilik tidak ada, Beliau mendorongku ke ranjang. Saya Anjlok telentang, kaus tersingkap Tiba perut. Payudaraku melonjak berkurang Sigap.
Beliau tertarik leggingku keras Tiba robek kecil di bagian paha. sempak merah renda Nan Saya guna gelap ini langsung kelihatan—telah lembab di bagian inti, warnanya suram dikarenakan cairan.
“Ya Allah… memeknya udah nganga minta kontol,” katanya Sembari menjilati bibir.
Beliau memasuki Lancingan pendeknya. Kontolnya melompat melangkah keluar—lebar Sekeliling 18 cm, tebel, urat-urat menonjol, kepala bulat Akbar mengkilap dikarenakan precum. Saya menatapnya berdua mata melebar. telah pelan sekali Saya tak menyaksikan, apalagi merasakan, sesuatu sebesar itu.
Beliau melonjak ke ranjang, tertarik kakiku lebar-lebar. Jilbabku telah rela jumlah, rambut tersebar di bantal. Beliau menunduk, mencium paha dalamku, Lampau lidahnya menyusuri garis sempak. amis memekku Nan masam-menarik tercium olehnya, dan Beliau malah mendesah Lezat.
“Wanginya bikin gila…”
Lampau Beliau tertarik sempak itu ke samping. Memekku ada—bibir lobangpipis tebel berwarna cokelat Uzur, klitoris telah bengkak merah, cairan bening mengalir Tiba ke lubang anus.
Beliau langsung menjilat dari bawah ke atas, lidahnya lebar dan keras. Saya menjerit Mini, tangan meraih sprei.
“Aaahhh… Mas… jangan di situ… jorok…”
“Bukan jorok. Lezat. lobangpipis janda Nan kelaparan,” jawabnya Lampau menghisap klitorisku keras.
Saya menggelinjang hebat. bagian dalam dua menit Saya telah orgasme pertama—cairan muncrat Mini, membasahi dagunya. Beliau terbahak pelan.
“anyar kecup doang udah nyemprotin muka. Besok Saya bujuk temen biar rame.”
ungkapan-ungkapan itu Semestinya menakutkan, tapi malah Membikin memekku berkedut lagi.
Beliau melonjak, memposisikan kontol di bibir memekku. Kepala kontolnya Akbar, menekan memasuki pelan. Saya meringis—sakit, tapi Lezat eksternal Normal.
“Pelan Mas… Akbar…”
“Pelan? di masa depan malah minta extra keras,” desisnya Lampau Sorong keras Tiba memasuki separuh.
Saya menjerit. Selera penuh, terbelah, emosi emosi adem. Beliau berhenti Sejenak, Lampau tarik melangkah keluar Nyaris Seluruh, kemudian tusuk lagi extra bagian dalam. Plok… plok… Bunyi lembab memenuhi Bilik.
Beliau mulai mengentot Sigap. Setiap dorongan Membikin payudaraku bergoyang-goyang. Beliau meremas keduanya keras, memilin pentil Tiba Saya terisak Lezat.
“Bilang, Kak Rina milik siapa kontolnya?”
Saya menggeleng, malu.
Beliau mencengkeram leherku pelan, choking enteng. “Bilang!”
“Milik… Mas Dika…” desahku lirih.
“extra keras!”
“MILIK MAS DIKA! NGENTOT Saya LAGI… HANCURKAN lobangpipis JANDA INI!”
Beliau mengaum, mengakselerasi. letak berganti—Saya dibalik doggy style. Bokongku Nan montok terangkat besar. Beliau menampar pantatku keras berkali-kali Tiba memerah. Setiap tamparan Membikin memekku makin lembab.
“Pantatnya empuk banget… pantat janda emang beda,” katanya Sembari berikut menyetubuhi dari belakang.
Saya orgasme lagi, kali ini extra hebat. Cairan muncrat membasahi sprei, kakiku gemetar tak kokoh menahan letak. Beliau tak berhenti, malah tertarik rambutku ke belakang seperti tali kekang.
“Mas… udah… lemes…”
“Belum. Saya mau melangkah keluar di bagian dalam.”
Saya panik Sejenak. “Jangan… Mas… Saya nggak teguk pil…”
“Tapi memeknya bilang lain. Beliau nganga minta diisi air mani.”
Beliau mengakselerasi lagi. Bunyi plok-plok lembab makin kencang. Saya merasakan kontolnya berdenyut di bagian dalam.
“Aaaarghhh… melangkah keluar…!”
air mani emosi emosi adem menyemprot bagian dalam-bagian dalam. lumayan berlimpah sekali, terasa mengalir Tiba ke rahim. Beliau menyemprot berkali-kali, Tiba memekku penuh dan kelebihan menetes melangkah keluar membasahi pahaku.
Beliau tarik melangkah keluar pelan. Memekku merah bengkak, air mani putih kental menetes dari lubang Nan Tetap menganga. Saya ambruk di ranjang, helaan tersengal.
Beliau membelai punggungku. “Besok gelap Saya tiba lagi. Kali ini Saya bawa temen Esa. Biar Kak Rina tahu rasanya dua kontol sekaligus.”
Saya menoleh loyo, mata berkaca-kaca. “Mas… jangan…”
Tapi di antara paha, memekku berkedut lagi menyimak ungkapan-ungkapan itu.
Beliau tersipu, mencium keningku.
“istirahat masa lalu, jalang Mini. Besok gelap anyar mulai sesi Nan sesungguhnya.”
laksana masuk Bilik ditutup pelan. rintik Tetap deras di eksternal. Saya terbaring, tubuh lemas, lobangpipis Tetap berdenyut penuh air mani, dan pikiranku… tak meraih berhenti membayangkan apa Nan akan terjadi besok gelap.
gelap berikutnya tiba terlalu Sigap. Saya menghabiskan seharian bagian dalam keadaan Bimbang. Setiap kali dudukin, memekku Tetap terasa perih dan bengkak dari semalam—lubangnya seperti belum pulih sepenuhnya, tapi setiap kali menggali memori denyutan kontol Mas Dika Nan emosi emosi adem dan tebel, cairan emosi emosi adem langsung merembes lagi ke sempak. Saya mengubah sempak tiga kali seharian dikarenakan lembab berikut. Malu sekali, tapi tak meraih Dusta: tubuhku telah ketagihan.
Saya guyur dua kali sore itu, Berjuang membersihkan Residu-Residu air mani Nan Tetap terasa lengket di bagian dalam. Tapi makin kugosok berdua sabun, makin Saya teringat Bunyi plok-plok lembab dan desahan Mas Dika di telingaku. Putingku mengeras seorang diri di bawah guyuran air emosi emosi adem. Saya Nyaris saja mengocok memekku di Bilik guyur, tapi kutahan. Saya Mau rekam tenaga… hasilkan gelap ini.
Jam delapan gelap, rintik telah reda. Udara Tetap lembab, amis tanah lembab memasuki lewat celah Bilik Nan kubuka kecil. Saya guna baju Nan sengaja kupilih hasilkan “menggoda tak memakai terlihat menggoda”: gamis hitam polos Lenggang, tapi bahannya tipis banget katun Jepang Nan agak tembus pandang kalau kena Sinar lampu. Di dalamnya Saya guna kutang renda hitam tipis banget Nan hanya menutupi separuh toket—putingku Nyaris tembus kain—dan sempak string hitam Nan talinya menjepit celah bokongku. Jilbab tetap Saya guna, model segi empat Akbar Rona arang-arang Uzur, Agar tetap terlihat sopan dari eksternal. Tapi Saya tahu, Mas Dika Niscaya langsung tahu apa Nan Eksis di baliknya.
Pas jam Separuh sembilan, Eksis ketukan pelan di dubur—bukan laksana masuk Ambang seperti kemarin. Saya deg-Cengkir. Saya izinkan laksana masuk, dan Mas Dika tegak di sana, tersipu miring. Di belakangnya Eksis seorang Pria lain. extra besar kecil dari Mas Dika, raga extra kekar, seperti bekas angkat besi. Kulitnya extra suram, Nyaris hitam legam, rahang lebar, kumis tipis banget teratur, dan matanya tajam seperti preman kampung Nan baik jiwa tapi berbahaya. Namanya Mas Andi, katanya tetangga dua Griya dari Mas Dika, usia 35 tahun, telah menikah tapi istrinya kerja di Singapura sebagai PRT.
“gelap, Kak Rina,” sapa Mas Andi berdua Bunyi beban. Matanya langsung berkurang ke dada dan pinggulku. “Dika kisah lumayan berlimpah soal Anda. Katanya… Anda jago ngelayanin.”
Wajahku langsung emosi emosi adem. Saya mundur selangkah, tapi Mas Dika telah memasuki duluan, mengakhiri dubur, Lampau mengikat.
“Jangan merasa ngeri, Kak. Mas Andi Hanya mau nyicip. Beliau berjanji nggak keras… kecuali Anda minta.”
Saya menggeleng pelan. “Mas… Saya nggak yakin. Kemarin aja Saya telah lemes banget…”
Mas Dika mendekat, tangannya langsung merangkul pinggangku dari belakang. Jari-jarinya menekan perutku pelan, berkurang ke selangkangan. “Tapi memeknya bilang lain. Udah lembab lagi kan?”
Saya menggigit bibir. akurat. sempak stringku telah licin.
Mas Andi melangkah mendekat dari Ambang. Beliau extra besar, jadi Saya harus mendongak. amis parfum kayu cendana kokoh dari tubuhnya. Beliau angkat daguku berdua jari telunjuk.
“Ayu banget janda hijab begini. Saya tertarik Nan sopan di eksternal, jalang di bagian dalam.”
ungkapan-katanya keras, tapi entah kenapa Membikin putingku makin keras.
Mereka berdua membawaku ke Bilik tak memakai lumayan berlimpah berucap lagi. Lampu Bilik Saya redupkan jadi kuning temaram. Ranjang double telah kusut dari semalam—sprei Tetap Eksis noda lembab Mini dari cairanku.
Mas Dika mendorongku dudukin di pinggir ranjang. Mas Andi tegak di depanku, langsung memasuki resleting Lancingan jeansnya. Kontolnya langsung melompat melangkah keluar—extra pendek dari Mas Dika, mungkin 16 cm, tapi extra tebel, kepalanya Akbar seperti jamur, urat-uratnya menonjol keras. amis maskulinnya extra kokoh, Kombinasi keringat dan kecil aroma sabun guyur.
“Hisap masa lalu, Kak. Biar Saya lembab sebelum memasuki,” perintah Mas Andi.
Saya bimbang Sejenak. Tapi Mas Dika telah di belakangku, tertarik jilbabku pelan Tiba terlepas, rambutku tergerai. Beliau kata pelan di telingaku, “Anda meraih, jalang Mini. Tunjukin ke Mas Andi betapa Pandai mulutmu.”
Saya memasuki bibir pelan. Kepala kontol Mas Andi memasuki, emosi emosi adem dan beban di lidahku. Rasanya Masin, kecil Anyir, tapi Membikin kepalaku pusing Lezat. Saya mulai mengulum pelan, lidah berputar di kepala kontolnya. Beliau mendesah keras.
“baik… bagian dalam lagi, Kak. Tiba tenggorokan.”
Saya menguji deepthroat. Kontolnya tebel, Membikin rahangku nyeri, tapi Saya hambat. Air mata melangkah keluar kecil dikarenakan mual, tapi memekku malah makin lembab. Mas Dika di belakang telah tertarik gamisku ke atas, meremas bokongku dari eksternal sempak string.
“Pantatnya empuk banget. Saya mau main di sini juga di masa depan,” katanya Sembari menampar bokongku pelan.
Mas Andi mulai menggerakkan pinggul, mengentot mulutku pelan masa lalu, Lampau makin Sigap. Bunyi gluk-gluk lembab terdengar setiap kali kontolnya memasuki ke tenggorokan. Saya megap-megap, tapi tak menolak. Malah tanganku meraih paha Mas Andi, menariknya extra bagian dalam.
seketika Mas Dika menarikku mundur. Kontol Mas Andi melangkah keluar dari mulutku berdua bunyi “pop” lembab, air liur menetes ke dagu dan payudaraku.
“Sekarang giliran Kak Rina Nan dimanjakan,” ungkapan Mas Dika.
Mereka berdua mendorongku telentang di ranjang. Mas Dika tertarik gamis dan kutang-ku sekaligus. Payudaraku terbebas, bergoyang-goyang. pentil cokelat Uzur Akbar telah mengeras seperti batu. Mas Andi langsung menjilat pentil kiri, menggigit pelan Tiba Saya menjerit Mini. Mas Dika ke pentil kanan, menghisap keras Sembari jarinya berkurang ke memekku.
sempak string telah dilepas. Jari inti Mas Dika langsung memasuki ke lubang memekku Nan Tetap licin dari semalam. Beliau mengocok Sigap, dua jari, Lampau tiga. Bunyi ceklek-ceklek lembab terdengar.
“Memeknya udah Lenggang kecil gara-gara kemarin. Tapi Tetap terbatas banget,” komentarnya.
Mas Andi melonjak ke atas wajahku. “dudukin di muka Kak Rina, Dika. Biar Beliau kecup memeknya juga.”
Tak. Mas Andi Nan melonjak ke wajahku, tapi bukan lobangpipis—kontolnya Nan digosok-gosokkan ke bibirku lagi. Fana Mas Dika memasuki kakiku lebar-lebar, menjilat memekku ganas. Lidahnya memasuki bagian dalam-bagian dalam, menghisap klitorisku Tiba Saya menggelinjang hebat.
Saya orgasme pertama gelap itu bagian dalam letak itu—cairan muncrat ke muka Mas Dika. Beliau terbahak, menjilat semuanya.
“Squirt lagi, Kak. Saya tertarik liat Anda banjir.”
Lampau mereka mengubah letak. Saya dibalik doggy style. Mas Dika di belakang, kontolnya langsung menusuk memekku dari belakang. Keras, bagian dalam sekali. Saya menjerit.
“Aaaahhh… Mas… Akbar…!”
Mas Andi di Ambang, mengisi kontolnya ke mulutku lagi. Sekarang Saya diapit dua kontol sekaligus—Esa di lobangpipis, Esa di bibir. Mereka mengentot bergantian ritme. ketika Mas Dika Sorong bagian dalam, Mas Andi tarik melangkah keluar dari bibir, Lampau sebaliknya. Tubuhku bergoyang-goyang seperti boneka.
Bunyi plok-plok lembab dari lobangpipis, gluk-gluk dari bibir, desahan mereka berdua, jeritanku Nan tertahan—semuanya memenuhi Bilik.
Mas Dika menampar bokongku berkali-kali. “Bilang Anda budak kontol kami berdua!”
Saya megap-megap, bibir penuh kontol. “Mmmph… iya… Saya budak kontol kalian…”
Mas Andi terbahak. “baik. Sekarang kita coba Nan extra bagian dalam.”
Mereka tarik Saya ke letak sandwich. Mas Dika telentang di ranjang, Saya melonjak ke atasnya, memekku menelan kontolnya lagi. Lampau Mas Andi di belakangku. Jari-jarinya mengoles ludah ke lubang anusku.
Saya panik. “Mas… jangan di situ… Saya belum pernah…”
“tenteram, Kak. Pelan-pelan. Anda Niscaya tertarik.”
Beliau Sorong pelan. Kepala kontolnya memasuki ke anusku. Sakit eksternal Normal, tapi juga penuh aneh Nan Lezat. Saya terisak, tapi pinggulku malah maju seorang diri. ujungnya memasuki separuh. Saya mengalami terbelah dua—lobangpipis penuh kontol Mas Dika, anus penuh kontol Mas Andi.
Mereka mulai menggerakkan pinggul bersamaan. Double penetration pertama bagian dalam hidupku. Selera sakit bercampur Lezat gila. Saya orgasme lagi, kali ini extra hebat—cairan muncrat deras, membasahi perut Mas Dika.
“Aaaarghhh… hancur… memekku… pantatku… hancurkan akuuu!”
Mereka mengakselerasi. Tubuhku gemetar tak terkendali. amis keringat, aroma lobangpipis lembab, air mani Nan mulai menetes, semuanya memabukkan.
Mas Dika melangkah keluar duluan. air mani emosi emosi adem menyemprot bagian dalam memekku, lumayan berlimpah sekali Tiba menetes melangkah keluar. Mas Andi menyusul, tertarik kontol dari anus, Lampau menyemprotkan air mani ke punggung dan bokongku. Cairan putih kental menetes ke sprei.
Saya ambruk di atas Mas Dika, helaan tersengal, tubuh lemas jumlah. lobangpipis dan anus Tetap berdenyut, penuh air mani dan cairan.
Mas Andi membelai rambutku. “Besok gelap lagi, ya Kak? Kali ini kita bujuk Esa orang lagi. Biar Anda tahu rasanya tiga sekaligus.”
Saya tak meraih berucap. Hanya mengangguk loyo, mata berkaca-kaca.
Mas Dika mencium bibirku pelan. “Anda udah jadi milik kami sekarang, Kak Rina. Janda hijab Nan paling Bandel di komplek.”
Mereka berpakaian, meninggalkanku Tak berbusana di ranjang, tubuh penuh bekas merah tamparan, air mani menetes dari dua lubang, dan memikirkan Nan telah tak meraih kembali normal.
Di eksternal celah, hembusan gelap bertiup pelan. Saya tahu, besok gelap… Saya akan menanti mereka lagi.
gelap ketiga terasa seperti angan buruk Nan menarik. Saya telah tak lagi berpura-pura menolak. Sejak pagi, tubuhku Bimbang tak karuan. lobangpipis dan anus Tetap perih, tapi perih itu Malah membuatku berikut-terusan menggali memori dua kontol Nan menghancurkan gelap sebelum itu. Saya guyur pelan sekali, menggosok tubuh berdua sabun wangi mawar, tapi tanganku seorang diri Nan Bandel—jari inti memasuki pelan ke lobangpipis, mengocok pelan Sembari membayangkan apa Nan akan terjadi gelap ini. Saya orgasme Mini di Bilik guyur, air Kombinasi cairan bening mengalir ke selokan.
Saya menentukan busana paling yakin diri Nan pernah kupakai di Griya seorang diri: lingerie set merah darah Nan kubeli tenteram-tenteram dua tahun Lampau, tak pernah dipakai dikarenakan malu. kutang push-up renda transparan, toket terangkat besar, putting cokelat Uzur terlihat Jernih di kembali kain tipis banget. sempak thong renda Nan Nyaris tak menutupi apa-apa, talinya menjepit celah bokong Tiba terlihat garis pantat montokku. Di atasnya Saya guna kimono satin hitam pendek Nan ada di Ambang, dan jilbab tetap—kali ini model pashmina Rona merah marun Nan kusemat teratur. Saya Mau terlihat seperti Wanita soleh Nan sedia dilucuti.
Jam sembilan lewat lima belas menit, ketukan di dubur lagi. Kali ini extra beban, seperti tiga orang. Jantungku berdegup kencang Tiba terasa di tenggorokan.
Saya izinkan laksana masuk. Mas Dika tegak di Ambang, di belakangnya Mas Andi, dan Esa Pria lagi Nan belum pernah kulihat. Namanya Mas Reza, katanya rekan pelan Mas Dika dari gym. Usia Sekeliling 30 tahun, raga paling berotot di antara mereka—dada bidang, lengan seperti besi, perut six-pack terlihat samar di kembali kaus ketat. Kulitnya kuning langsat, rambut Pendek pendek, dan tatapannya paling ganas. Beliau telah menikah juga, tapi istrinya sedang hamil Akbar di kampung halaman.
“gelap, Kak Rina,” sapa Mas Reza berdua Bunyi bagian dalam. Matanya langsung menelusuri tubuhku dari atas ke bawah. “Dika bilang Anda udah sedia Lakukan level lalu.”
Saya menelan ludah. “Mas… tiga orang… Saya merasa ngeri nggak kokoh.”
Mas Dika tersipu, memasuki duluan, tertarik tanganku ke bagian dalam. “Anda kokoh, jalang Mini. gelap ini kita bikin Anda terlupakan identitas seorang diri.”
Mereka mengikat laksana masuk, langsung membawaku ke ruang tamu masa lalu—bukan Bilik. Lampu ruang tamu Saya matikan, hanya lampu meja Mini Nan kuning redup. Mereka Perintah Saya tegak di inti karpet.
“Lucuti kimononya pelan-pelan,” perintah Mas Andi.
Saya gemetar, tapi tanganku Taat. Kimono satin Anjlok ke lantai. Tubuhku terpampang bagian dalam lingerie merah, toket melonjak berkurang Sigap, lobangpipis telah lembab Tiba sempak thong terlihat suram di bagian inti.
Mas Reza mendesis. “Ya Tuhan… pantatnya extra gede dari Nan diceritain. Bokong janda emang beda.”
Mereka mendekat bersamaan. Mas Dika dari Ambang, mencium bibirku ganas Sembari meremas payudaraku. Mas Andi dari samping kiri, tertarik kutang ke bawah, menghisap putting kiri keras. Mas Reza dari belakang, tangannya meremas bokongku, jari-jarinya langsung menyusup ke celah pantat, menekan lubang anus Nan Tetap sensitif.
Saya mendesah keras di antara ciuman. “Uhh… Mas… pelan…”
“Pelan apaan? Anda udah banjir dari tadi,” ungkapan Mas Reza Sembari menampar bokongku keras. Plak! Plak! Bunyi tamparan bergema.
Mereka menyeretku ke sofa lebar. Saya didudukkan di pangkuan Mas Dika, menghadap ke Ambang. Kontolnya telah melangkah keluar, tegak keras. Beliau tertarik thong ke samping, mengisi kontolnya pelan ke memekku. Saya menggelinjang ketika memasuki penuh—Selera penuh lagi, emosi emosi adem, tebel.
Mas Andi tegak di depanku, kontolnya langsung dimasukkan ke bibir. Saya mengulum Sembari memekku digoyang-goyang pelan oleh Mas Dika. Mas Reza melonjak ke sofa, tegak di samping, kontolnya—Nan paling lebar, mungkin 19 cm, urat-urat tebel seperti tali—Beliau gosok-gosokkan ke pipiku, ke leherku, ke payudaraku.
“kecup semuanya, Kak. Kita mau Anda puasin tiga sekaligus,” katanya.
Saya bergantian mengulum ketiganya. Mulutku penuh, air liur menetes ke dagu, ke toket. Mereka bergantian memasuki ke bibir, kadang dua kontol sekaligus menekan bibirku, Membikin rahangku nyeri tapi Lezat eksternal Normal.
Lampau mereka angkat Saya ke meja nyemil—meja kayu jati lebar di ruang nyemil Nan jarang kupakai. Saya dibaringkan telentang, kakiku dibuka lebar ke dua sisi meja. Mas Dika melonjak ke atas meja, menusuk memekku lagi dari Ambang. Mas Andi di samping kepala, mengentot mulutku. Mas Reza melonjak dari belakang, mengoles ludah ke anusku, Lampau mendorong memasuki pelan.
Double penetration lagi, tapi kali ini berdua letak Nan extra ada. lobangpipis dan anus terisi penuh, payudaraku diremas-ngepal, putting dijepit, ditarik. Saya menjerit tertahan setiap dorongan.
“extra keras… hancurkan Saya… Saya budak kontol kalian!” teriakku seorang diri, telah tak Acuh malu lagi.
Mereka mengakselerasi. Bunyi plok-plok lembab dari lobangpipis dan anus, gluk-gluk dari bibir, tamparan di bokong dan toket, desahan mereka Nan makin liar—semuanya bercampur jadi simfoni nafsu.
Saya orgasme berkali-kali. Pertama muncrat Mini, kedua extra deras Tiba membasahi perut Mas Dika, ketiga Saya Nyaris pingsan—cairan bening menyemprot seperti air mancur, membasahi meja dan lantai.
“Beliau squirt lagi! Jalang ini nggak Eksis habisnya!” ungkapan Mas Reza Sembari berikut mengentot anusku.
Mereka mengubah letak berkali-kali. Saya diangkat, diputar, dibalik. Eksis saatnya Saya doggy di lantai, Esa kontol di lobangpipis, Esa di anus, Esa di bibir. Eksis saatnya Saya diangkat seperti boneka, dua kontol di lobangpipis dan anus sekaligus—double vaginal dan anal—Sembari mulutku diisi Nan ketiga. Selera terbelah, penuh, sakit Lezat Nan tak tertahankan.
ujungnya mereka tak hambat lagi.
Mas Dika melangkah keluar duluan, tertarik kontol dari lobangpipis, menyemprotkan air mani emosi emosi adem ke perut dan payudaraku. lumayan berlimpah, kental, putih susu menetes ke samping.
Mas Andi menyusul, melangkah keluar di mulutku. Saya menelan sebagian, sisanya menetes ke dagu dan leher.
Mas Reza Nan terakhir—Beliau tertarik dari anus, memosisikan kontol di atas wajahku, Lampau menyemprotkan air mani tebel ke Paras, rambut, dan jilbab merah Nan Tetap kusemat Separuh. air mani menetes ke mata, ke bibir, ke leher. amis Masin kokoh memenuhi hidungku.
Saya ambruk di lantai, tubuh gemetar, helaan tersengal. lobangpipis merah bengkak, anus ada lebar, air mani menetes dari kedua lubang dan Paras. toket penuh bekas gigitan dan remasan, bokong memerah dikarenakan tamparan.
Mereka bertiga tegak di sekitarku, helaan Tetap beban.
Mas Dika membungkuk, mencium keningku Nan penuh keringat dan air mani. “Anda eksternal Normal, Kak Rina. Kita nggak akan berhenti di sini. Besok… mungkin kita bawa extra lumayan berlimpah lagi. Atau kita rekam Agar Anda meraih nonton seorang diri tiap gelap.”
Saya tak meraih berucap. Hanya mengangguk loyo, mata berkaca-kaca Kombinasi malu, puas, dan ketagihan Nan telah tak meraih disembunyikan lagi.
Mereka berpakaian, meninggalkanku Tak berbusana di lantai ruang nyemil, tubuh penuh cairan mereka, aroma ngentot memenuhi seluruh Griya.
Dubur ditutup pelan.
Saya terbaring pelan di sana, menyimak denyut jantung seorang diri Nan Tetap kencang. Di eksternal, hembusan gelap bertiup sepoi, membawa amis rintik Nan akan tiba lagi.
Saya tahu, mulai gelap ini, Saya bukan lagi janda hijab Nan soleh di mata tetangga.
Saya Ialah milik mereka.
Dan Saya… tak Mau berhenti.
Tamat.

Leave a Reply